Selasa, 04 Oktober 2011

Pelangi dilangit Kota Solo

 
Suasana senja di kota Solo kala itu begitu dramatis dan romantis. Gerimis yang telah membasahi kota Solo, telah meninggalkan pelangi indah yang menghias langit yang berwarna marun. Suasana seperti ini harusnya dinikmati dengan hati yang gembira dan bahagia, apalagi bila ada yang tercinta disisi. Tapi apa yang terjadi denganku justru sebaliknya, pemandangan yang menakjubkan ini harus aku nikmati dengan hati yang pilu. Perjalanan pulang menuju Jakarta yang hanya memakan waktu dua jam, terasa bagaikan sepanjang hidupku.
Setelah peperangan bathin yang cukup hebat, akhirnya aku memutuskan untuk menemui kekasihku Salamah, yang kini telah tinggal dikampung halamannya Solo. Setelah kontrak kerjanya di Jakarta habis, ia memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya. Kami hanya berhubungan melalui telepon saja dan saling mengunjungi secara bergantian setiap satu bulan sekali.
Kami tahu bahwa cinta kami terlarang, tapi kami tetap saling mencintai. Walaupun perbedaan usia antara kami terpaut cukup jauh dan aku pun telah beristri, tapi dia tetap menerimaku apa adanya. Aku pun merasa bahagia bila bersamanya, hidupku terasa lebih berarti. Istriku pun sangat mengenal Salamah, ia ku kenalkan sebagai teman kantorku. Bahkan Salamah sering main kerumahku dan berbincang-bincang akrab dengan istriku.
Pernah suatu hari, Salamah menginap dirumahku saat dia berkunjung ke Jakarta. Kesempatan itu kami gunakan untuk bercumbu mesra. Dikala istriku terlelap dalam mimpinya, kami justru bergelut dalam hangatnya cumbuan asmara. Kami saling peluk, saling cium, hingga kami lupa diri dan melakukan hubungan intim yang tak semestinya kami lakukan. Kami tak lagi memikirkan dosa dan karma yang akan kami terima kelak. Yang ada dalam otak kami hanyalah bagaimana caranya menuntaskan kerinduan yang terpendam setelah lama tak bertemu.
Kami pun sering pergi berkencan secara sembunyi-sembunyi. Disaat istriku sedang pergi bekerja, kami justru pergi berkencan memadu kasih. Namun kini semua itu hanyal tinggal kenangan saja. Kenangan indah yang terangkai dalam hati yang masih merona oleh cinta. Kami memutuskan untuk mengakhiri cinta terlarang ini, dan menjalani hidup kami masing-masing. Walaupun ternyata kami masih tetap saling mencintai.
“Kamu tunggu aku dimana, sayang?” tanyaku melalui hand phone, ketika bus yang ku tumpangi sudah hamper memasuki terminal Serang.
“Aku tunggu di pos depan terminal, ya!”
“Oke, kamu tunggu aku ya sayang!”
Dari kejauhan, aku sudah melihat kekasih hatiku berdiri dengan anggunnya. Tubuhnya yang berbalut gaun berwarna ungu, rambutnya yang panjang sepunggung tergerai bebas, semakin membuatnya terlihat semakin cantik.
Aku pun turun dari bus yang kutumpangi dengan wajah tersenyum bahagia. Rasa rindu setelah sebulan lamanya tak bertemu membuatku ingin segera memeluknya.
“Apa kabar, sayang?” sapaku lembut sambil merangkul pinggangnya yang ramping.
“Baik! Kamu juga baik kan, sayang? Aku kangen sekali sama kamu!” jawabnya dengan suara manja yang selalu memabukkan hatiku.
“Kita mau kemana sekarang, sayang? Ada banyak hal yang harus aku bicarakan denganmu.”
“Hal apa, sayang? Hal burukkah?” dia bertanya dengan wajah penuh kekhawatiran.
Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke alun-alun kota Serang. Disana kami menikmati pemandangan kota Serang sambil makan siang di sebuah rumah makan yang cukup nyaman. Sepanjang pembicaraan kami, aku selalu menatap senyumnya. Aku berpikir, apakah aku sanggup kehilangan gadis secantik dia?
“Kenapa sih, sayang? Dari tadi kamu terus pandangi wajahku. Apa ada yang salah dengan wajahku? Ada jerawatnya? Atau ada sisa makanan dibibirku? Atau aku bertambah jelek, ya? Dia memberondong pertanyaan padaku.
“Justu sebaliknya, kamu tambah cantik! Dan aku sedang berpikir, apakah aku sanggup jika harus kehilangan kamu.”
“Apa maksudmu?”
“Seminggu yang lalu, istriku keguguran! Istriku sedih sekali, karena kami memang sudah menanti kehadiran seorang momongan selama dua tahun pernikahan kami. Aku merasa kalau ini semua adalah balasan dari Tuhan atas semua dosa yang telah aku lakukan. Aku rasa sebaiknya kita akhiri saja semua petualangan kita ini, sayang!”
“Tapi aku sangat mencintai kamu dan aku tak mungkin mudah melupakan kamu, sayang”
“Aku mengerti, sayang! Aku juga merasakan hal yang sama. Aku tak bahagia dengan istriku, aku tak mencintainya. Tapi aku juga tak ingin menyakitinya terus menerus, dia terlalu baik.”
“Lalu, apa aku kurang baik? Aku sudah mengorbankan segalanya untuk kamu, termasuk kehormatanku!” suaranya mulai serak menahan tangis.
“Bukan begitu, sayang! Kamu segalanya untukku. Kamu yang bisa membuat aku bahagia dan bergairah. Tapi sampai kapan kita begini terus? Aku tak mungkin menceraikan istriku karena dia pilihan orangtuaku dan masa depan kamu masih panjang. Kamu bisa memilih lelaki yang lebih baik untukmu. Apa kamu mau selamanya menjadi simpananku?
“Aku rela menjadi istri keduamu, sayang!” dia mulai menangis, dan aku segera menggenggam tangannya dan memeluk bahunya agar dia tenang.
“Itu tak mungkin, sayang!”
Salamah semakin menangis terisak. Aku bisa merasakan kepiluan hatinya, karena sesungguhnya aku juga merasakan hal yang sama. Andai waktu dapat berputar, aku ingin dipertemukan dengan Salamah lebih awal agar aku bisa memilikinya. Akan kulakukan apapun untuk mendapatkannya, walaupun harus menentang orangtuaku. Tapi sekarang keadaannya berbeda, aku bertemu Salamah disaat aku telah beristri. Walaupun istriku adalah pilihan orangtua tapi aku tak sanggup menceraikannya, dia terlalu baik.
Cukup lama kami saling diam dalam pelukan, bahkan kami tak mempedulikan orang-orang yang sejak tadi terus memandangi kami. Hatiku semakin hancur melihat kekasihku tercinta menangis dihadapanku.
“Sayang, sudahlah! Kita jalani saja ini semua seperti awal kita bertemu. Kita tetap berteman dan saling menghubungi, jangan sampai komunikasi dan silaturahmi keluarga kita ikut terputus karena hal ini. Bukankah keluargamu dan keluargaku sudah saling kenal dan akrab, kita bisa tetap jadi keluarga.” aku mencoba menghiburnya.
“Mungkin yang kamu katakan ada benarnya. Tidak mungkin selamanya kita begini. Tapi aku akan etap mencintaimu sampai kapanpun Walau aku bersuami sekalipun, aku akan tetap mencintaimu!”
“Aku pun sama, sayang! Aku akan tetap mencintaimu dalam hatiku, tapi aku akan tahan hasratku untuk memelukmu, menciummu, dan memilikimu. Cukup cinda dalam hati saja.”
Salamah langsung memelukku dengan erat tanpa mempedulikan sekeliling kami. Seolah dia merasa bahwa ini adalah pelukannya yang terakhir, hingga dia tak malu lagi memelukku di depan umum.
“Baiklah, aku relakan kau pergi dari hadapanku tapi tidak dari hatiku!” ucapnya sambil mengecup mesra tanganku.
“Terimakasih, cintaku!” aku pun membalas mencium keningnya.
“Ayo, aku antar kamu ke terminal! Lihatlah, langit pun ikut bersedih untukku!” ucapnya sambil menunjuk langit yang sejak tadi gerimis.
Ya, langit memang turut bersedih! Sepanjang hari ini, hujan terus mengguyur kota Solo. Namun ketika senja tiba, langit terlihat indah karena sang pelangi tersenyum indah disudut bumi. Mungkin sama seperti kisah cintaku dengan Salamah, terasa sakit ketika kami memutuskan untuk berpisah tetapi indah untuk masa depan kami kelak.
Salamah mengantar kepulanganku hingga aku menaiki bus yang akan membawaku ke Jakarta. Dia memintaku memeluknya sebagai tanda perpisahan kami. Senyumnya yang terlihat begitu getir, membuat hatiku semakin teriris.
“Aku tidak akan pernah mengucapkan selamat tinggal padamu, karena aku masih ingin selalu bertemu denganmu!” ucapnya sambil melepas pelukan.
“Akupun sama! Kita tetap bertemu kapanpun kita mau, hanya saja tanpa cinta…”.
Aku segera naik ke bus dan melambaikan tangan pada Salamah. Aku ingin segera meninggalkan bumi Solo ini. Aku tak sanggup lagi berlama-lama menatap mata indah Salamah yang sejak tadi membendung airmata.
Selamat tinggal Salamah, selamat tinggal cintaku. Selamat tinggal pula kota Solo yang penuh kenangan, semoga kau tetap indah saat aku kembali menginjakkan kaki disini, entah kapan……..





--- TAMAT ---

Tidak ada komentar:

Posting Komentar