Suasana senja
di kota Solo
kala itu begitu dramatis dan romantis. Gerimis yang telah membasahi kota Solo, telah
meninggalkan pelangi indah yang menghias langit yang berwarna marun. Suasana
seperti ini harusnya dinikmati dengan hati yang gembira dan bahagia, apalagi
bila ada yang tercinta disisi. Tapi apa yang terjadi denganku justru
sebaliknya, pemandangan yang menakjubkan ini harus aku nikmati dengan hati yang
pilu. Perjalanan pulang menuju Jakarta
yang hanya memakan waktu dua jam, terasa bagaikan sepanjang hidupku.
Setelah
peperangan bathin yang cukup hebat, akhirnya aku memutuskan untuk menemui
kekasihku Salamah, yang kini telah tinggal dikampung halamannya Solo.
Setelah kontrak kerjanya di Jakarta
habis, ia memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya. Kami hanya berhubungan
melalui telepon saja dan saling mengunjungi secara bergantian setiap satu bulan
sekali.
Kami tahu
bahwa cinta kami terlarang, tapi kami tetap saling mencintai. Walaupun
perbedaan usia antara kami terpaut cukup jauh dan aku pun telah beristri, tapi
dia tetap menerimaku apa adanya. Aku pun merasa bahagia bila bersamanya,
hidupku terasa lebih berarti. Istriku pun sangat mengenal Salamah, ia ku
kenalkan sebagai teman kantorku. Bahkan Salamah sering main kerumahku dan
berbincang-bincang akrab dengan istriku.
Pernah suatu
hari, Salamah menginap dirumahku saat dia berkunjung ke Jakarta. Kesempatan itu kami gunakan untuk
bercumbu mesra. Dikala istriku terlelap dalam mimpinya, kami justru bergelut dalam
hangatnya cumbuan asmara.
Kami saling peluk, saling cium, hingga kami lupa diri dan melakukan hubungan
intim yang tak semestinya kami lakukan. Kami tak lagi memikirkan dosa dan karma
yang akan kami terima kelak. Yang ada dalam otak kami hanyalah bagaimana
caranya menuntaskan kerinduan yang terpendam setelah lama tak bertemu.
Kami pun
sering pergi berkencan secara sembunyi-sembunyi. Disaat istriku sedang pergi
bekerja, kami justru pergi berkencan memadu kasih. Namun kini semua itu hanyal
tinggal kenangan saja. Kenangan indah yang terangkai dalam hati yang masih
merona oleh cinta. Kami memutuskan untuk mengakhiri cinta terlarang ini, dan
menjalani hidup kami masing-masing. Walaupun ternyata kami masih tetap saling
mencintai.
“Kamu tunggu
aku dimana, sayang?” tanyaku melalui hand phone, ketika bus yang ku tumpangi
sudah hamper memasuki terminal Serang.
“Aku tunggu di
pos depan terminal, ya!”
“Oke, kamu
tunggu aku ya sayang!”
Dari kejauhan,
aku sudah melihat kekasih hatiku berdiri dengan anggunnya. Tubuhnya yang
berbalut gaun berwarna ungu, rambutnya yang panjang sepunggung tergerai bebas,
semakin membuatnya terlihat semakin cantik.
Aku pun turun
dari bus yang kutumpangi dengan wajah tersenyum bahagia. Rasa rindu setelah
sebulan lamanya tak bertemu membuatku ingin segera memeluknya.
“Apa kabar,
sayang?” sapaku lembut sambil merangkul pinggangnya yang ramping.
“Baik! Kamu
juga baik kan,
sayang? Aku kangen sekali sama kamu!” jawabnya dengan suara manja yang selalu
memabukkan hatiku.
“Kita mau
kemana sekarang, sayang? Ada
banyak hal yang harus aku bicarakan denganmu.”
“Hal apa,
sayang? Hal burukkah?” dia bertanya dengan wajah penuh kekhawatiran.
Akhirnya kami
memutuskan untuk pergi ke alun-alun kota
Serang. Disana kami menikmati pemandangan kota
Serang sambil makan siang di sebuah rumah makan yang cukup nyaman. Sepanjang
pembicaraan kami, aku selalu menatap senyumnya. Aku berpikir, apakah aku
sanggup kehilangan gadis secantik dia?
“Kenapa sih,
sayang? Dari tadi kamu terus pandangi wajahku. Apa ada yang salah dengan wajahku?
Ada jerawatnya?
Atau ada sisa makanan dibibirku? Atau aku bertambah jelek, ya? Dia memberondong
pertanyaan padaku.
“Justu
sebaliknya, kamu tambah cantik! Dan aku sedang berpikir, apakah aku sanggup
jika harus kehilangan kamu.”
“Apa
maksudmu?”
“Seminggu yang
lalu, istriku keguguran! Istriku sedih sekali, karena kami memang sudah menanti
kehadiran seorang momongan selama dua tahun pernikahan kami. Aku merasa kalau
ini semua adalah balasan dari Tuhan atas semua dosa yang telah aku lakukan. Aku
rasa sebaiknya kita akhiri saja semua petualangan kita ini, sayang!”
“Tapi aku
sangat mencintai kamu dan aku tak mungkin mudah melupakan kamu, sayang”
“Aku mengerti,
sayang! Aku juga merasakan hal yang sama. Aku tak bahagia dengan istriku, aku
tak mencintainya. Tapi aku juga tak ingin menyakitinya terus menerus, dia
terlalu baik.”
“Lalu, apa aku
kurang baik? Aku sudah mengorbankan segalanya untuk kamu, termasuk
kehormatanku!” suaranya mulai serak menahan tangis.
“Bukan begitu,
sayang! Kamu segalanya untukku. Kamu yang bisa membuat aku bahagia dan
bergairah. Tapi sampai kapan kita begini terus? Aku tak mungkin menceraikan
istriku karena dia pilihan orangtuaku dan masa depan kamu masih panjang. Kamu
bisa memilih lelaki yang lebih baik untukmu. Apa kamu mau selamanya menjadi
simpananku?
“Aku rela
menjadi istri keduamu, sayang!” dia mulai menangis, dan aku segera menggenggam
tangannya dan memeluk bahunya agar dia tenang.
“Itu tak
mungkin, sayang!”
Salamah
semakin menangis terisak. Aku bisa merasakan kepiluan hatinya, karena
sesungguhnya aku juga merasakan hal yang sama. Andai waktu dapat berputar, aku
ingin dipertemukan dengan Salamah lebih awal agar aku bisa memilikinya. Akan
kulakukan apapun untuk mendapatkannya, walaupun harus menentang orangtuaku.
Tapi sekarang keadaannya berbeda, aku bertemu Salamah disaat aku telah
beristri. Walaupun istriku adalah pilihan orangtua tapi aku tak sanggup
menceraikannya, dia terlalu baik.
Cukup lama
kami saling diam dalam pelukan, bahkan kami tak mempedulikan orang-orang yang
sejak tadi terus memandangi kami. Hatiku semakin hancur melihat kekasihku
tercinta menangis dihadapanku.
“Sayang,
sudahlah! Kita jalani saja ini semua seperti awal kita bertemu. Kita tetap
berteman dan saling menghubungi, jangan sampai komunikasi dan silaturahmi keluarga
kita ikut terputus karena hal ini. Bukankah keluargamu dan keluargaku sudah
saling kenal dan akrab, kita bisa tetap jadi keluarga.” aku mencoba
menghiburnya.
“Mungkin yang
kamu katakan ada benarnya. Tidak mungkin selamanya kita begini. Tapi aku akan
etap mencintaimu sampai kapanpun Walau aku bersuami sekalipun, aku akan tetap
mencintaimu!”
“Aku pun sama,
sayang! Aku akan tetap mencintaimu dalam hatiku, tapi aku akan tahan hasratku
untuk memelukmu, menciummu, dan memilikimu. Cukup cinda dalam hati saja.”
Salamah
langsung memelukku dengan erat tanpa mempedulikan sekeliling kami. Seolah dia
merasa bahwa ini adalah pelukannya yang terakhir, hingga dia tak malu lagi
memelukku di depan umum.
“Baiklah, aku
relakan kau pergi dari hadapanku tapi tidak dari hatiku!” ucapnya sambil
mengecup mesra tanganku.
“Terimakasih,
cintaku!” aku pun membalas mencium keningnya.
“Ayo, aku
antar kamu ke terminal! Lihatlah, langit pun ikut bersedih untukku!” ucapnya
sambil menunjuk langit yang sejak tadi gerimis.
Ya, langit memang
turut bersedih! Sepanjang hari ini, hujan terus mengguyur kota Solo. Namun ketika senja tiba, langit
terlihat indah karena sang pelangi tersenyum indah disudut bumi. Mungkin sama
seperti kisah cintaku dengan Salamah, terasa sakit ketika kami memutuskan untuk
berpisah tetapi indah untuk masa depan kami kelak.
Salamah
mengantar kepulanganku hingga aku menaiki bus yang akan membawaku ke Jakarta. Dia memintaku
memeluknya sebagai tanda perpisahan kami. Senyumnya yang terlihat begitu getir,
membuat hatiku semakin teriris.
“Aku tidak
akan pernah mengucapkan selamat tinggal padamu, karena aku masih ingin selalu
bertemu denganmu!” ucapnya sambil melepas pelukan.
“Akupun sama!
Kita tetap bertemu kapanpun kita mau, hanya saja tanpa cinta…”.
Aku segera
naik ke bus dan melambaikan tangan pada Salamah. Aku ingin segera meninggalkan
bumi Solo ini. Aku tak sanggup lagi berlama-lama menatap mata indah Salamah
yang sejak tadi membendung airmata.
Selamat
tinggal Salamah, selamat tinggal cintaku. Selamat tinggal pula kota Solo yang penuh
kenangan, semoga kau tetap indah saat aku kembali menginjakkan kaki disini,
entah kapan……..
--- TAMAT ---
Tidak ada komentar:
Posting Komentar