Hari itu kamis, 22 April 2010. Aku seharian merasakan pinggangku sakit bukan main, katanya kalo hamil anak laki-laki, yang dirasakan sakit memang pinggang. Saat itu aku memang sedang menunggu kelahiran anakku yang tinggal menghitung hari saja. Tapi aku msh bs tetap beraktifitas seperti biasa, melayani pelanggan di rental komputer milikku. Bahkan aku buka sampai jam 11 malam.
Semakain malam, pinggangku makin terasa sakit. Bahkan kini aku mulai merasakan kontraksi diperutku. Namun jarak kontraksi yang satu dengan kontraksi berikutnya masihlah lama, masih berjarak 2 jam sekali. Malamnya aku sudah tidak bisa tidur, aku sudah merasakan bahwa besok aku akan melahirkan. Rasa senang, takut, gelisah, semua bercampur jadi satu. Kontraksi yang aku rasakan pun semakin cepat jaraknya, sudah setiap 30 menit sekali.
Pagi harinya, aku langsung mandi, bersih-bersih semua badan karena yakin akan melahirkan. Aku pun sarapan agar perut tidak kosong. Kontraksi sudah semakin dekat, setiap 5 menit sekali. Selesai sarapan, tepat jam 7 pagi, akupun pergi ke bidan tempat aku biasa periksa. Sampai disana, bidanku langsung mengecek, katanya masih lama karena baru pembukaan 2.
Kontraksi yang kurasa semakin hebat, tapi alhamdulillah aku kuat dan tak mengeluh sama sekali, hanya mengatur nafas dan beristigfar. Kebetulan hari ini hari Jum'at, suamiku pun bersiap untuk pergi sholat jum'at sambil mendoakan semoga aku cepat melahirkan. Karena sampai jam 11 siang, aku masih belum ada tanda-tanda akan melahirkan. Setelah di cek, ternyata aku baru pembukaan 5. Orangtua dan mertuaku, semua sudah menungguiku, mereka pun terlihat cemas. Aku mencoba berjalan-jalan disekitar rumah bidanku, agar pembukaannya cepat naik.
Ternyata sampai suamiku pulang sholat jum'at pun, aku masih belum melahirkan juga. Sampai sore hari sekitar jam 3, bidanku memanggil bidan bantuan karena merasa bahwa ada kelainan denganku. saat itu pembukaanku sudah 8. Jam 5 sore, bidan bantuan datang. Dia melakukan pemeriksaan pada vaginaku. Ternyata vaginaku tidak bisa membuka lagi walaupun pembukaan sudah 8. Bidan dan orangtuaku pun berembuk. Akhirnya aku dirujuk ke RS karena terpaksa harus dioperasi cesar. Disaat mereka sibuk berembuk, ternyata ketubanku pecah dan warnanya sudah tidak normal. Itu pertanda buruk bagi calon bayiku. Akupun tiba-tiba sudah tidak bisa lagi menahan rasa sakit di perutku akibat kontraksi. Aku mulai menangis dan merintih kesakitan, karena kali ini perutku rasanya perih sekali setiap si calon bayi bergerak-gerak diperutku mencari jalan keluar. Mungkin karena ketuban sudah pecah, jadi perutku terasa kering kali ya, sehingga sakit sekali. Padahal sebelum ketuban pecah, kontraksi sehebat apapun, aku hanya mengatur nafas dan beristigfar. Tidak ada rintihan dan tangisan yang keluar dari mulutku.
Hari hampir magrib ketika aku kan dibawa ke RSumah Sakit Saat itu aku tidak mau memilih RSUD Cengkareng walaupun dia lebih dekat dengan rumahku. Aku lebih memilih RS Puri Mandiri di Kedoya. Dengan menggunakan mobil tetanggaku, akhirnya aku dibawa menuju RS Puri Mandiri. Namun, ketika sampai di dekat universitas Satyagama, aku sudah benar-benar tidak kuat lagi untuk meneruskan perjalanan. Apalagi jam segitu pasti macet sekali. Akhirnya aku meminta agar mobil dibelokkan saja ke RSUD Cengkareng yang saat itu hanya berjarak sekitar 500 meter dari tempat mobil kami berada.
Sampai di RSUD Cengkareng, aku langsung di bawa ke UGD, disana bidanku dan seorang tetanggaku mengurus semua administrasiku. Kebetulan tetanggaku itu bisa mengurus SKTM agar aku mendapatkan keringanan biaya. Maklum saja, aku di cesar tanpa direncanakan tabungan yang aku miliki sih cukup kalau cuma untuk membayar biaya cesar. Tapi kan keperluannya tidak hanya itu, setelah melahirkan masih banyak biaya lain yang harus dikeluarkan. Mana saat itu gaji suamiku masih kecil, bahkan saat ini suamiku sedang kena pemotongan gaji karena ada suatu kasus di kantornya.
Setelah urusan administrasi diselesaikan, seorang perawat menanyakan apakah aku pernah periksa disana selama hamil. Aku bilang aku sudah beberapa kali periksa disana, lalu aku memilih dokter Edward untuk menjadi dokterku saat operasi nanti, karena memang dialah dokter yang sering aku kunjungi selama periksa kehamilan.
Operasiku dijadwalkan jam 10 malam, sedangkan saat aku datang ke UGD sekitar jam 7. Aku rasanya tak sanggup harus menunggu selama 3 jam, perutku semakin sakit. Lalu akupun diberikan suntikan anti kontraksi (aku lupa nama istilah kedokterannya), karena aku sudah positif akan dioperasi. Kami sedang menunggu dokter Edward datang, karena masih dalam perjalanan. Lega rasanya perutku sudah tidak lagi merasakan sakit yang luar biasa.
Akupun dipindahkan dari ruang UGD ke ruang kebidanan. Disana akupun dipasangkan alat pendeteksi jantung bayi dan katanya bayiku masih sehat detak jantungnya masih normal. Namun tiba-tiba, perutku merasakan sakit yang luar biasa lagi. Padahal tadi kata perawatnya, suntikan anti kontraksi itu bisa untuk menahan kontraksi skitar 1 jam, Tapi ini baru 15 menit kok udah sakit lagi ya??
Perawat di ruang kebidanan kembali menyuntikan Anti kontraksi kembali, sambil terus mencatat perkembangan bayiku. Tapi baru 10 menit, sakit itu datang lagi. Perawat disana bingung bagaimana bisa kok secepat itu sudah hilang reaksi obatnya. Mereka sudah tidak berani lagi memberikan suntikan itu karena sudah 2x diberikan, jadi akupun berjuang menahan sakit yang luar biasa sambil terus menatap jam ingin cepat-cepat jam 10 malam. Suamiku yang saat itu terus berada disampingku, menjadi sasaranku untuk menahan sakit. Aku melihat wajah suamiku yang begitu cemas dan sedih.
Untunglah ternyata dokter Edward datang lebih cepat, sehingga jam 9.30 malam aku sudah masuk ruang operasi. Tepat di depan pintu ruang operasi, tiba-tiba ketubanku keluar lagi, banyak sekali. dan selanjutnya akupun dibawa masuk ke ruang operasi.
Di dalam ruang operasi, dokter Edward sudah menungguku. Dia duduk tepat disebelah kiriku sambil santai membaca buku, entah buku apa, mungkin buku riwayat kehamilanku. Tiba-tiba aku sudah tidak merasakan sakit lagi perutku. Mungkin karena aku sudah dibius. Tapi aku bingung, kalau sudah di bius, kenapa aku masih sadar?
"Dokter, ini udah dibius?" tanyaku pada dokter Edward.
"Iya, udah dibius" jawabnya santai.
"Kok saya masih sadar?" tanyaku lagi.
"Iya, biusnya ga total, cuma setengah badan aja" jelasnya.
Aku sedikit tenang setelah mendapat penjelasan dari dokter Edward. Aku menggigil kedinginan, bahkan sampai keluar ingus saking dinginnya ruang operasi ini. Tapi dokter Edward malah tersenyum saja melihat aku menggigil kedinginan. Maklum, aku dioperasi dalam keadaan bugil tanpa sehelai benangpun. Jadi wajar saja menggigil kedinginan kena AC yang super kenceng ini.
Aku mendengar para dokter dan perawat sibuk mengobrol dan bergosip ria di ruang operasi, tapi aku juga mendengar suara alat-alat operasi yang saling beradu. Dalam hati aku berpikir, "ini sebenarnya sudah menjalankan operasi apa belom sih?". Tapi tiba-tiba lamunanku terhenti ketika seorang perawat meminta izin untuk menekan perut bagian atas ku, katanya untuk mengeluarkan kepala bayi. Aku diam saja karena aku benar-benar sedang merasakan bingung di dalam ruang operasi itu. Tiba-tiba aku mendengar suara tangisan bayi. Lagi-lagi aku bertanya dalam hati, "bayi siapa kok ada di ruang operasi sih?". Bodohnya aku, padahal itu bayiku sendiri. Aku baru tersadar kalau tangisan bayi itu adalah bayiku, ketika dokter Edward mengatakan, "bayinya laki-laki, sehat dan lengkap". Anakku lahir sekitar jam. 11.30 malam. wooow, hampir tengah malam. Tepatnya anakku lahir pada hari Jum'at, 23 April 2010 jam 23.20 WIB.
Lalu bayi itu di taruh ke dadaku untuk inisiasi dini (bener ga tuh tulisannya, CMIIW). Lalu bayiku dibawa kembali oleh perawat itu katanya akan di taruh ke ruang bayi dan akupun dipindahkan ke ruang perawatan. Setelah di ruang perawatan, aku merasakan perutku lapar sekali. Kakiku masih kaku blom bisa digerakkan, biusnya masih blom hilang. Suamiku tiba-tiba masuk, dia baru dari ruang bayi.
"gimana, udah lihat anak kita di ruang bayi?" tanyaku.
"ga tau yang mana, bingung semua bayinya sama. Tulisan nama orangtuanya ga keliatan. Tapi ada sati bayi kasian deh, dia dipojok sendirian, pake oksigen. Sedih lihatnya." jawab suamiku.
Akupun melihat sekeliling kamar perawatanku, kebetulan 1 kamar disisi 3 orang. Aku bingung, kenapa mereka kok hanya botol infus saja yang menggantung, tidak ada kantong darah. Kenapa punyaku kok ada kantong darahnya ya? pertanyaan itu hilang begitu saja seiring rasa ngantuk yang sudah mulai menyerangku.
Keesokan paginya, Bapakku datang menemuiku. membawakan berbagai keperluanku. Perawatpun datang memeriksaku.
"gimana bu, sudah lebih segar?" tanyanya.
"udah" jawabku singkat.
"iya dong harus segar, kan udah abis 4 kantong darah. Kemarin HB nya drop parah." jelasnya
Aku kaget, 4 kantong darah? HB drop parah? tapi kok aku ga merasakan lemas sama sekali. Biasanya kalau HB drop, pasti lemes banget. Tiba-tiba perawat memanggil suamiku untuk menemui dokter. Aku menunggu anakku di bawa menemuiku. Karena aku lihat bayi lain sudah dibawa menemui ibunya. Suamiku datang dengan seorang perawat, dia membawa bayiku.
"dilihat dulu anaknya sebentar, bu. Soalnya mau dipindahkan ke ruang lain." jelas perawat itu.
Aku hanya sempat menggendong anakku sebentar saja, aku tatap wajahnya, senang sekali rasanya. Lalu bayiku pun di bawa kembali. Suamiku duduk disebelahku dan menjelaskan bahwa anakku akan dipindahkan ke ruang perina karena anakku mengalami gangguan jantung dan pernafasan. Aku juga akan dipindahkan dari ruang rawat kelas 2, ke ruang rawat kelas 3 demi menekan biaya, karena bayiku di ruang perina akan memakan biaya lebih mahal.
Rasanya aku seperti disambar petir, dadaku terasa sesak sekali, tapi anehnya aku tak bisa menangis sedikitpun, mungkin saking kagetnya kali. Beberapa perawat pun datang memindahkan aku ke ruang rawat kelas 3. Bagiku tak apa aku mengalah berada di ruang yang lebih jelek, asalkan anakku ada di tempat yang lebih bagus.
Ternyata di ruang rawat kelas 3, 1 ruangan diisi 10 orang. Tapi aku malah lebih suka karena jadi tidak sepi.
Aku saat di ruang rawat kelas 3, sehari setelah operasi secar...
Keluarga, saudara, tetangga, teman-teman, bahkan teman-teman suamiku pun datang menjengukku. Semua bertanya dimana anakku, kok ga di taruh dekat ibunya. Sedih rasanya setiap mendapat pertanyaan itu. jangankan mereka, aku saja yang ibunya baru sekali bertemu, itupun tidak ada 1 menit. Di ruang perina itu, hanya ibu sang bayi yang boleh masuk menemui. Kecuali si ibu msh blom bisa berjalan, sang ayah boleh menggantikan untuk menengoknya.
Diantara banyak teman yang datang, cuma si ember inni yang ada fotonya... hee.. hee... :)
Perutku masih besar seperti sedang hamil 9 bulan, padahal foto ini diambil setelah 3 hari aku dioperasi cesar... :(
Suamiku yang selalu setia mendampingiku... thank's my hubby...
Setelah 3 hari pasca operasi, kondisiku sudah mulai membaik. aku sudah bisa berjalan walau masih tertatih. Aku ingin cepat-cepat ke ruang perina menemui anakku. Aku ada di lantai 5, sedangkan anakku di lantai 3. Lumayan juga berjalan tertatih kesana. Sampai diruang perina, aku langsung mencari bayiku. aku kaget ternyata bayi-bayi disana semua memakai alat-alat khusus. Aku pun mencari namaku di box bayi, dan aku menemukan anakku berada di pojok ruangan. Aku terhenyak, jantungku serasa copot. Aku kaget melihat bayi mungilku ini, ternyata memakai selang oksigen, selang infus, dan sebuah empeng yang dipasang dimulutnya. Aku hanya bs menatapnya tanpa bs menyentuhnya. Tak terasa airmataku mengalir begitu saja. Tiba-tiba anakku pun menangis, sepertinya dia tau aku datang dan menangisinya. Dia menangis kencang tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. dia tidak bisa digendong karena banyak selang yang dipasang. Aku benar-benar tidak kuat melihatnya. Aku hanya 5 menit berada disana dan aku langsung pergi meninggalkann ruangan itu.
Aku marah pada suamiku, karena selama ini dia sering bolak balik ke ruang perina menengok anak kami, tapi dia tidak pernah bercerita kalau anakku itu di infus dan di oksigen. Akupun bodoh kenapa tidak berfikir bahwa ruang perina itu tidak lain merupakan ruang khusus bagi bayi yang bermasalah, istilah kasarnya ICU bayi.
Suamiku meminta maaf karena tidak menceritakan keadaan yang sebenarnya, karena dia tidak ingin aku khawatir. Aku pun bertekad untuk secepatnya mengeluarkan ASI agar bisa diberikan ke anakku sebagai antibodi. Sudah 3 hari melahirkan tapi ASI ku belum juga keluar. Aku terus memompa ASI ku dan hanya mendapatkan beberapa CC saja, itupun msh kuning. Katanya justru itu ASI yang bagus, masih banyak mengandung kolostrum (CMIIW) untuk antibodi anakku. Akupun segera menyerahkan asiku ke ruang perina. Semoga saja perawat disana jujur semua dan memberikan ASI ku pada anakku.
Besoknya aku mulai bisa menguasai diri untuk menemui anakku. Aku sudah tidak menangis lagi. Aku sudah bisa mengajakknya berbicara, entah dia mendengar atau tidak. Lalu aku dijanjikan besok untuk bertemu dokter anak yang menangani anakku. Aku senang karena aku ingin tahu perkembangan anakku.
Aku pun menunggu dokter anakku tepat jam 2 siang. Tetapi ketika aku sampai sana, dokternya ternyata tidak datang. Aku suruh datang lagi jam 5 katanya. Aku sempat kesal, tapi biarlah aku tahan dulu kekesalanku ini demi anakku. Tepat jam 5 sore, aku kembali kesana menemui dokter anak yang katanya menangani anakku, aku lupa namanya yang jelas dia perempuan. Tapi lagi-lagi aku harus kecewa karena ternyata dia tidak datang lagi.
Akhirnya dengan kesal, aku bertanya pada perawat disana, sebenarnya dokter itu datang atau tidak. Perawat disana malah berkata bahwa dokter tersebut sedang diluarkota. Kalau memang dia diluarkota, kenapa menjanjikan aku untuk menemuinya jam 2 dan jam 5??!! Aku kesal sekali. Dengan nada kesal, aku bertanya siapa dokter jaga di ruang perina saat itu, aku ingin tau kondisi anakku, aku minta penjelasan sedetail-detailnya. Ternyata anakku sudah mengalami perkembangan yang cukup baik. Napasnya sudah tidak terlalu cepat, sudah mulai normal. Detak jantungnya pun sudah normal. Lalu, kenapa aku tidak diberitahu? kenapa kesannya seperti dipermainkan.
Akhirnya aku minta pulang saja pada dokter jaga itu. Karena kalau menurut dokter Edward, aku sudah diizinkan pulang, hanya tinggal menunggu kondisi anakku saja. Dokter jaga itu tidak bisa langsung memberi jawaban karena dia perlu berunding dulu. Akupun kembali ke ruanganku dengan penuh rasa kesal.
Keesokan harinya tepatnya hari ke-6 aku di RSUD Cengkareng, Seorang perawat menemui suamiku untuk mengurus administrasi karena aku sudah bisa pulang. Lalu aku bertanya apakah anakku juga sudah bisa pulang, perawat itu menjawab iya. Aku senang sekali akhirnya aku dan anakku bisa pulang kerumah. Aku langsung menelpon orangtuaku untuk membantu kepulanganku.
Suamiku kembali dari ruang administrasi, dia bercerita bahwa dia disuruh menandatangai surat pernyataan bahwa apabila ada sesuatu yang buruk terjadi pada anakku, pihak RSUD Cengkareng tidak akan bertanggung jawab. Karena kepulanganku ini termasuk pulang paksa atas kemauan sendiri. Aku sedikit kesal, tapi biarlah aku pasrahkan saja semuanya kepada Allah. Kalaupun nanti dirumah ternyata anakku kembali memburuk keadaannya, aku akan membawanya ke RS lain. Seluruh biaya yang dikeluarka selama 6 hari disini sebesar 8,8 juta. Tapi karena aku memakai SKTM, maka aku hanya membayar 50% saja. Lumayan sisa tabungannya bisa dipakai untuk yang lain.
Bapak ibuku pun datang untuk membantu kepulanganku dan anakku. Tapi setelah menunggu dari pagi, aku masih blom juga diijinkan pulang. Katanya menunggu jam besuk ruang perina, baru aku bisa kesana untuk mengambil anakku. Sekitar jam 1 siang, aku baru diijinkan untuk ke ruang perina mengambil anakku. Rasanya aku sudah tidak sabar ingin mengendong anakku.
Masuk ke ruang perina, ternyata dokter jaga sudah menungguku. Dia menjelaskan kepadaku tentang semua kondisi anakku dan apa saja yang harus aku lakukan untuk mengontrol detak jantung dan nafas anakku. Dokter jaga ini begitu baik dan telaten, kenapa bukan dia saja yang menjadi dokter anakku. Ini samapai aku mau pulangpun, sudah 6 hari di sini, masih belum juga bertemu dengan dokter anak yang menangani anakku.
Akhirnya detik-detik yang aku tunggu pun tiba. Anakku akhirnya bisa berada digendonganku. Bahagia luar biasa rasanya. Akhirnya anakku bisa pulang bersamaku walau harus dengan menandatangani surat pulang paksa.
Razka umur 6 hari, setelah pulang dari RS
Sehat terus ya anakku, sayang....
Pipinya tembem banget....
Surat keterangan lahir Razka
BB : 3,2 kg Panjang : 50 cm
Telapak kaki mungil anakku sayang
Alhamdulillah sejak dibawa pulang kerumah, kondisi Razka semakin membaik. detak jantung dan nafasnya semakin normal. Kuasa Allah Maha Besar. Terima kasih ya Allah....









